Jumat, 08 November 2019

Evolusi Transportasi Dukung Kiprah Pariwisata dan Perekonomian Nasional

Transportasi sangat berkaitan erat dengan industri pariwisata dan motor penggerak ekonomi daerah yang dapat berdampak pada pertumbuhan perekonomian nasional. Hal ini tentunya terlihat pada dampaknya terhadap ekologi, pengalaman wisata, dan peningkatan ekonomi yang telah menyerukan pengelolaan sumber daya yang lebih baik.  Jika terdapat moda transportasi yang memenuhi harapan pengguna, tentunya hal ini dapat meningkatkan potensi kunjungan wisatawan ke berbagai objek pariwisata yang dapat mendongkrak perekonomian daerah sebagai sumbangsih dalam pertumbuhan perekonomian nasional.
Pariwisata merupakan salah satu sektor prioritas yang memiliki peran penting dalam kegiatan perekonomian suatu negara. Bahkan sektor pariwisata melebihi sektor migas serta industri lainnya apabila dikelola dengan baik. Dengan demikian, banyak negara di dunia untuk berlomba- lomba mengembangkan potensi-potensi pariwisata yang dimilikinya sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan negara. Pengembangan sarana dan prasarana transportasi dalam sektor pariwisata dapat mendongkrak pertumbuhan perekonomian nasional.
Kebijakan dan orientasi pembangunan yang bertumpu pada keadilan sosial dan pemerataan menjadi kunci bagi Indonesia untuk melangkah lebih maju dan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi yang merata di seluruh tanah air. Pengerjaan infrastruktur yang menghubungkan antarwilayah di tanah air telah menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru, sehingga memberi ruang yang lebih luas bagi pengembangan ekonomi di masa depan. Kebijakan tersebut diuraikan secara gamblang oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat menjadi pembicara dalam “Solidaritas untuk Indonesia Lebih Baik” di Grand City Mall & Convex Surabaya, Minggu, 25 November 2018, di hadapan kurang lebih 5.000 warga Jawa Timur yang terdiri dari para pengusaha, karyawan, dan pelaku bisnis lainnya.


                     Sumber :Kantor Staff Presiden

Moeldoko juga memaparkan beberapa keunggulan yang sudah dicapai dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo, seperti pembangunan infrastruktur dan keadaan ekonomi. “Pemerintah saat ini membangun dengan pendekatan Indonesia Sentris, bukan lagi Jawa Sentris atau Sumatera Sentris. Hampir semua pembangunan infrastruktur telah disamaratakan, seperti misalnya pembangunan jalan, bandara, pelabuhan, jembatan, dan seterusnya,” kata Moeldoko. Dalam rangka menjaga stabitilas ekonomi, Presiden Joko Widodo telah bekerja keras untuk menjaga di tengah korporasi ekonomi dunia.”Rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia hanya 2,5%, tetapi Indonesia masih mampu menjaga dan menumbuhkan 5,17%,”tegasnya.
Seperti yang kita ketahui, dalam 5 tahun terakhir telah terjadi transformasi moda transportasi umum. Dimulai dari angkutan umum baik angkot, bajaj, metro mini, KRL dan sebagainya telah bertransformasi menjadi moda transportasi online berupa ojek online baik motor maupun mobil dan trans jakarta. Transformasi ini diperkuat dengan adanya MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit) yang berdiri kokoh di sepanjang jalan ibukota. Hal ini membuat masyarakat dapat menikmati berbagai kemudahan dalam bertransportasi untuk melakukan berbagai aktivitas harian maupun ketika hendak bepergian ke tempat pariwisata.


Pada zaman sebelum era saat ini, saat menaiki bajaj, angkot atau metromini kita harus menunggu lama di bawah terik matahari hingga terdapat konsekuensi mendapatkan pengemudi yang mengemudikan kendaraan secara ugal-ugalan sehingga mengancam keselamatan penumpang. Saat kita ingin bepergian keluar kota dengan menggunakan kereta api maupun pesawat, kita harus mengantri selama berjam-jam untuk mendapatkan tiket di stasiun maupun bandara. Namun, hal tersebut tidak perlu kita khawatirkan lagi sebab moda transportasi telah terintegrasi dengan teknologi tinggi. Seperti saat kita akan bepergian, dapat memesan ojek online maupun booking ticket melalui aplikasi atau platform yang menyediakan jasa untuk memesan tiket secara online tanpa perlu mengantri. Hal tersebut merupakan terobosan yang sangat luar biasa dalam bidang transportasi.
Aksesibilitas merupakan fungsi utama dasar transportasi sebagai angkutan dalam menjangkau daerah pariwisata untuk mengakses lokasi objek wisata. Hubungan antara pariwisata dan transportasi dipengaruhi oleh kemudahan dalam mengakses tujuan / objek wisata dan kualitas layanan transportasi yang harus memenuhi harapan wisatawan seperti tingkat keamanan, kenyamanan, frekuensi, efisiensi dan keandalan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi saat ini, persebaran destinasi pariwisata indonesia berada menyebar di lintas pulau dan menggunakan transportasi yang beragam. Pemakaian angkutan umum dalam mencapai tempat pariwisata dapat dilakukan dengan 3 cara yakni melalui jalur darat,air maupun udara. Tak jarang untuk mencapai satu lokasi pariwisata dapat menggunakan kombinasi moda transportasi. Seperti contoh ilustrasi sebagai berikut. Wisatawan mancanegara yang akan mengunjungi pulau komodo, mereka harus terbang menggunakan pesawat menuju bandara Soekarno – Hatta, kemudian terbang menuju bandara ngurah rai, Bali dan dilanjutkan ke bandar udara komodo, labuan bajo. Perjalanan tidak berhenti sampai situ, wisatawan harus naik ojeg / taksi ke pelabuhan labuan bajo, kemudian dilanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal untuk menuju pulau komodo selama 4 jam. Sehingga estimasi total dari perjalanan wisatawan menuju labuan bajo adalah 2 – 3 hari, menggunakan transportasi darat, laut dan udara. Ilustrasi tersebut menggambarkan untuk menikmati destinasi wisata Indonesia perlu transportasi yang beragam.
Transportasi memberikan pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Fasilitas transportasi yang diberikan dengan menghadirkan kondisi aman, nyaman, bersih dan harga terjangkau menuju objek wisata dapat memicu peningkatan jumlah wisatawan yang akan berkunjung dan pengembangan objek wisata dimana hal tersebut dapat meningkatkan jumlah pendapatan daerah yang tentunya dapat meningkatkan perekonomian nasional.
Kementerian Pariwisata menilai bahwa daya saing pariwisata Indonesia terus membaik seiring dengan upaya pemerintah dalam melakukan pemerataan infrastruktur sehingga mendukung konektivitas antar kawasan. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani di Jakarta, Kamis (5/9/2019) mengatakan bahwa pariwisata identik dengan pergerakan orang dari satu kota ke kota lain atau satu negara ke negara lain, dengan pembangunan infrastruktur maka akan memudahkan pergerakan orang. Menurut dia, pergerakan orang selalu diikuti dengan pergerakan barang, jasa, dan uang, yang akhirnya berdampak pada pergerakan ekonomi setempat. Infrastruktur yang membaik juga dapat membuat potensi pariwisata dapat digali dengan maksimal.
Pemerintah telah berupaya untuk melakukan pembangunan infrastruktur yang merata dengan menerapkan konsep Indonesia Sentris yang dapat mengoptimalkan potensi daerah, terutama sektor pariwisata dan pengembangan ekonomi wilayah. Menteri perhubungan menyatakan, dalam kurun waktu 5 tahun ini, dilakukan pembangunan infrastruktur transportasi dengan pendekatan Indonesia Sentris untuk membuka keterisolasian, yaitu dengan memberikan dukungan aksesibilitas terhadap Daerah 3TP (Terluar, Terdepan, Tertinggal dan Perbatasan). Diantaranya melalui : penyediaan prasarana yaitu 18 rute tol laut dengan tujuan menekan disparitas harga di Indonesia Timur; 891 trayek angkutan perintis (angkutan jalan, SDP, KA, laut dan udara); dan pembangunan serta pengembangan 131 bandara di daerah rawan bencana, perbatasan dan terisolir.
Selanjutnya, Menhub menungkapkan, Kementerian Perhubungan telah melaksanakan program Jembatan Udara untuk meningkatkan konektivitas logistik dengan menyediakan 39 (tiga puluh Sembilan) rute yang dilayani sampai ke daerah-daerah pedalaman, terpencil dan pulau terluar untuk pemerataan serta kesenjangan ekonomi dan pembangunan antar wilayah di Indonesia bagian Timur.

 Capaian Sektor Perhubungan Laut yaitu Pembangunan Pelabuhan Non Komersial sebanyak 118 lokasi dan pengembangan pelabuhan diantaranya pengembangan Pelabuhan Patimban, Pelabuhan Kuala Tanjung dan proyek tol laut. Untuk meningkatkan bidang logistik, Kementerian Perhubungan juga akan menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub internasional. Hal tersebut dilihat dari arus bongkar muat (troughput) petikemas di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok tahun 2018 yang mencapai 7,5 juta TEUs dan diharapkan dapat terus bertambah menjadi 8 hingga 12 juta TEUs di tahun 2019. Sehingga kedepan perdagangan ke luar negeri dari Indonesia dapat ditangani oleh Pelabuhan Tanjung Priok.



Pada sektor Perhubungan Udara capaiannya antara lain Pembangunan Bandara Baru di 15 lokasi untuk peningkatan konektifitas antar wilayah dan peningkatan pariwisata 5 Bali Baru Indonesia.



Sedangkan capaian pada Sektor Perkeretaapian yaitu Pembangunan proyek Double-Double Track (DDT), Reaktiviasi jalur KA, Pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung dan Kereta Semi Cepat Jakarta-Surabaya.



Data dan fakta diatas merupakan bentuk suksesnya capaian lima tahun kinerja dari Kementerian Perhubungan yang ada di Kabinet Kerja. Capaian tersebut pun dapat dilihat di media sosial Kementrian Perhubungan di instagramnya. Hal ini diperkuat dengan data statistik BPS berikut.


Dapat kita lihat dari data statistik tersebut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi lapangan usaha transportasi dan pergudangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2018 sebesar Rp 797,3 triliun atau 5,37% dari PDB yang bernilai Rp 14.837,36 triliun. Lapangan usaha tersebut menggambarkan sektor logistik yang mencakup subsektor transportasi per moda, yatu rel; darat; laut; udara; serta sungai, danau, dan penyeberangan. Sektor logistik juga mencakup pergudangan dan jasa penunjang angkutan, serta pos dan kurir. Data diatas ditunjang dengan adanya fakta di lapangan bahwa implementasi pemerataan infrastruktur dengan mengintegrasikan teknologi dan pariwista dalam rangka menciptakan Indonesia Sentris merupakan kunci dari wujud terbentuknya Indonesia menjadi negara dengan ekonomi kuat tahun 2030.
Pemerataan infrastruktur itu dimaksudkan untuk menumbuhkan potensi peningkatan perekonomian di daerah-daerah yang sebelumnya terlihat tak tersentuh. Dengan tersambungnya sentra industri dan pariwisata, denyut perekonomian daerah diharapkan akan semakin kencang, terutama setelah sentra-sentra sumber ekonomi di daerah itu tersambung dengan sejumlah infrastruktur yang dibangun pemerintah pusat.
Transportasi merupakan syarat penting bagi pariwisata karena karakteristik kunci wisatawan adalah mobilitas. Namun, mobilitas ini telah meningkat secara tajam terutama karena adanya kemajuan teknologi dan peningkatan pendapatan bersih. Ketika mobilitas tinggi maka transportasi dengan sendirinya merupakan pelopor utama bagi landasan kepedulian lingkungan.Pembangunan infrastruktur dalam hal perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana moda transportasi menjadi modal bagi Making Indonesia 4.0 sehingga hal ini dapat membuat Indonesia menjadi negara dengan Ekonomi Kuat tahun 2030.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar